Terdiagnosis Tumor Kandung Kemih, Ayra Punya Cita-cita Jadi Dokter
Ayra Shirly Heryanto, putri tunggal Ernawati dan Fajar Heryanto ini, tak kehilangan harapan meski terbaring sakit. Di usianya yang baru 5 tahun, Ayra harus bolak-balik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk penanganan tumor kandung kemih.
Kondisi tersebut telah menyita sebagian besar waktu Ayra, yang biasanya habis di sekolah dan bermain. Kendati begitu, Ayra tak kehilangan cita-cita menjadi dokter di kemudian hari. Ayra bahkan sudah mulai bisa membaca kata-kata sederhana.
"Sudah pintar, per dua huruf. Mau jadi dokter," ujar Ernawati, ibunda Ayra, saat dikunjungi tim berbuatbaik.id.
![]() |
Selain masih menggenggam cita-citanya, Ayra juga nyaris tak pernah mengeluh saat tindakan medis. Menurut Ernawati, putri kecilnya hanya sesekali nyengir dan berkata sakit saat jarum kemoterapi menembus kulitnya untuk menghancurkan tumor yang telah jadi kanker.
Perlahan, Ayra harus kehilangan rambut indahnya pada Agustus 2025. Ayra kemudian menutupi kepalanya ketika berada di luar rumah. Ernawati mengatakan, putrinya tidak rewel karena sebelumnya terbiasa menggunakan jilbab saat sekolah atau bersama keluarga.
Dengan semua kondisinya saat ini, keikhlasan dan tekad kuat Ayra menjadi sumber kekuatan untuk Ernawati. Apalagi masih ada tindakan operasi yang menjadi harapan Ayra untuk sembuh. Ernawati bertekad melakukan semua yang disarankan dokter sambil bekerja dengan penghasilan seadanya.
"Insya Allah sembuh, nanti bisa kembali sekolah dan bermain seperti dulu," kata Ernawati. Saat ini Ayra buang air kecil dengan kateter dan terinfeksi CMV.
![]() |
Sahabat Baik, jangan biarkan Ayra berjuang sendirian di tengah serangan kanker kandung kemih. Sebagian rezeki kita adalah harapan baru bagi Ayra untuk bisa sehat dan mengejar cita-citanya. Yuk klik berbuatbaik.id yang donasinya 100% tersalurkan.
Kurang Air Bersih, Warga Desa Kadujajar Rela Jalan Jauh untuk Mandi dan Minum Layak
Air bersih adalah kebutuhan dasar setiap manusia untuk bisa hidup layak. Namun, air bersih belum diperoleh warga Desa Kadujajar, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten. Akibatnya, warga harus jalan jauh demi memperoleh air bersih untuk mandi, mencuci, masak, dan kebutuhan lain tiap hari.
"Di sini harus jalan ke sawah atau kita sebut rorah. Bulu kuduk merinding rasanya tiap ke sana," ujar Ustaz Ade warga lokal sekaligus pengelola Pondok Pesantren Nurul Hikmah pimpinan Kyai Sanen menjelaskan betapa jauh dan terpencil area untuk mengakses air bersih.
![]() |
Kesulitan air bersih makin terasa saat musim kemarau, ketika sumber air kering dan kotor. Kondisi serupa juga dialami ponpes tersebut yang mengandalkan sumur air dangkal sedalam 14 meter. Saat tim berbuatbaik.id berkunjung, air sumur yang digali bersama para santri tersebut tampak kotor dan banyak sampah.
Air dalam sumur itulah yang terpaksa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Air disedot dengan mesin atau diambil dengan ember dan tali yang diterjunkan ke dalam sumur. Air tersebut mengisi dua penampungan yang digunakan sehemat mungkin agar bisa digunakan seluruh santri. Akibatnya para santri kerap kali tidak mandi.
Akibatnya, santri kerap gatal-gatal atau mengalami penyakit lain karena kurang air bersih. Sulitnya memperoleh air bersih di Desa Kadujajar juga dijelaskan Suci Aulia, selalu program lead dari Yayasan Desa Hijau. Lembaga ini fokus pada penyediaan air bersih dan sanitasi warga Desa Kadujajar serta sekitarnya.
"Sumur hanya bertahan dua minggu, selanjutnya warga harus jalan 2 km dan antri untuk ambil air bersih. Kondisi ini menunjukkan warga perlu bantuan nyata dan berkelanjutan untuk penyediaan air bersih. Air inilah yang membantu warga hidup bersih dan nyaman," kata Suci.
![]() |
Desa Kadujajar membutuhkan sumur dalam untuk penyediaan air bersih teratur bagi seluruh warga. Sumur bor dan mesinnya membantu menepiskan rasa khawatir warga serta para santri, terkait terbatasnya air bersih di wilayah tersebut. Hasilnya, masyarakat Desa Kadujajar bisa beraktivitas dengan baik untuk memperbaiki kesejahteraannya.
Penyediaan dan Pengelolaan Sumur Air Bersih
Ustaz Ade berharap, pesantren dan warga bisa segera memiliki sumur sedalam kurang lebih 40-50 meter. Air yang tersedia di musim hujan dan kemarau, memungkinkan masyarakat tak lagi jalan jauh dan antri panjang untuk memperoleh air bersih. Pesantren nantinya ikut dalam pengelolaan sumur dan mesinnya agar berfungsi dengan baik.
"Sumur ini dikelola pesantren dan bisa diakses warga 24 jam, sehingga tak perlu ke rorah lagi untuk memperoleh air bersih. Saya sangat bersyukur jika rencana sumur bor ini bisa dilaksanakan, karena benar-benar sudah ditunggu masyarakat," kata Ustaz Ade.
Hal serupa dijelaskan Suci terkait pentingnya penyediaan air bersih bagi warga. Yayasan Desa Hijau sendiri akan terjun langsung untuk mendampingi warga dalam pengelolaan sumur, mesin, dan air bersih. Sehingga, sumur bor bisa berfungsi dengan baik dalam jangka panjang demi kesejahteraan masyarakat.
Sahabat Baik, mari kita bantu warga dan santri Desa Kadujajar untuk secepatnya memperoleh air bersih. Jangan sampai kondisi rawan penyakit terlalu lama dirasakan warga. Mari sisihkan sebagian rezeki kita di berbuatbaik.id, agar masyarakat Kadujajar bisa merasakan sejuknya air bersih setiap hari. Jangan khawatir, donasimu 100% tersalurkan.
Rumah Singgah Yayasan Kita Peduli, Tempat Pasien Kanker Menenun Harapan
Seorang pasien tentu ingin segera sembuh dari penyakit dan melanjutkan kehidupan. Hal serupa jadi harapan pasien kanker yang masih bergelut dengan banyak proses pengobatan. Dengan harapan itulah, peran rumah singgah menjadi sangat penting bagi pemulihan pasien kanker.
![]() |
Rumah singgah, salah satunya Yayasan Kita Peduli di Solo, Jawa Tengah, menjadi tempat pasien kanker menenun harapan. Apalagi Gerry Prayudi, ketua yayasan adalah seorang survivor kanker kemih tahun 2018. Setelah operasi dan tindakan medis lain, Garry dinyatakan sembuh tahun 2021.
"Yayasan Kita Peduli ini berdiri tahun 2021. Kenapa yayasan ini berdiri? Karena dulu saya survivor kanker. Waktu itu saya bilang ke diri sendiri, kalau misal berhasil sembuh akan membuat yayasan kanker. Karena waktu pengobatan saya lihat banyak pasien dari jauh-jauh sekali," kata Gerry.
Gerry mengatakan, Yayasan Kita Peduli saat ini menempati rumah milik orang tuanya dengan status sewa. Di sini tersedia kurang lebih 12 kamar untuk pasien kanker dan pendamping, pengurus, dan elemen lain yang mendukung proses pengobatan misal sopir ambulan.
Beragam pasien bergantian menempati rumah singgah demi menggapai kesembuhan dari kanker. Pasien dan pendamping tak perlu bayar, alias gratis, selama di rumah singgah. Tentunya pendamping wajib menemani pasien 24 jam tanpa jeda.
Seiring dengan banyaknya pasien yang bergantian mengisi kamar di Rumah Singgah Yayasan Kita Peduli, kebutuhan dana operasional juga terus membengkak. Apalagi yayasan ini berkomitmen menyediakan pendampingan dan pelayanan sebaik-baiknya untuk para pasien kanker.
![]() |
"Awalnya operasional kami sekitar 25 juta per bulan. Tapi ini itung-itungan pas, padahal kami perlu menyediakan makan tiap hari. Selain makan, ada lagi kebutuhan pasien lain dan sewaktu-waktu misal bensin ambulans," kata Gerry.
Sahabat Baik, kepedulian kita sangat berarti bagi pasien kanker yang sedang merajut asa di rumah singgah. Sebagian rezeki yang kita sisihkan di berbuatbaik.id memastikan ketersediaan tempat berlindung sementara, saat mereka melangsungkan pengobatan. Jangan khawatir, donasi kita 100% tersalurkan.