Rengganis Khoirunnisa, sebuah nama penuh doa untuk putri bungsu Zaenudin Anwar dan Nurul Karimah, agar kelak menjadi sosok cantik dan mulia. Nama inilah yang kemudian menjadi alasan kedua orang tuanya berjuang demi Rengganis. Meski penghasilan sang ayah sebagai kuli bongkar dan ibu tukang cuci, sangat terbatas.
"Di usia 6 bulan Rengganis mulai panas tinggi dan kejang, lalu keluar diagnosa epilepsi. Sebelumnya saat lahir, tangan kirinya buntung. Hingga saat ini di usia 3 tahun, Rengganis belum bisa berjalan dan bicara masih terus terapi," kata Nurul yang sehari-hari juga sibuk merawat Rengganis dan dua putri lainnya.
Dengan penghasilan suami sebesar Rp 80 ribu/hari dan dia sendiri Rp 30 ribu/hari yang tidak selalu ada, Nurul harus pintar menggunakan pemasukan untuk terapi Rengganis dan keperluan sehari-hari. Nurul mengatakan, dia benar-benar berusaha agar Rengganis tidak absen terapi fisik dan wicara di rumah sakit.
Menurut Nurul, otot Rengganis sangat lemah hingga tubuhnya tak bisa bergerak dan berdiri sempurna. Kaki Rengganis bergetar hebat tiap kali harus berdiri lama, sebelum akhirnya terduduk. Kondisi ini mengakibatkan tumbuh kembang Rengganis tidak sempurna, ketika teman-teman seusianya sudah mampu jalan, lari, dan bergerak bebas.
"Jika ada rezeki, Rengganis ingin punya sepatu terapi yang tidak dicover BPJS Kesehatan. Saat ini Rengganis pakai sepatu yang dipinjamkan tenaga kesehatan. Dengan sepatu ini, Rengganis bisa latihan lebih rajin agar bisa berdiri lebih lama dan jalan. Rengganis juga berharap punya stok susu untuk mendukung pemenuhan nutrisi," ujar Nurul.
Sepasang sepatu dan susu, jadi harapan Rengganis agar bisa tumbuh lebih baik seiring usia. Sahabat Baik, mari kita bantu Rengganis agar kelak bisa menggapai masa depan lebih baik. Ulurkan kasih dan kepedulianmu di berbuatbaik.id dan pastikan Rengganis menerimanya 100% tanpa potongan.