Gempa yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8/2026) menyisakan banyak duka bagi para penyintas. Goncangan sekuat 7,8 M tersebut merusak rumah, menimbulkan korban jiwa, luka, dan kehidupan yang tak lagi sama.
Kondisi trauma ini dirasakan juga oleh Fidelis Kostar, penyintas gempa yang terpaksa keluar dari rumahnya di Desa Golo Mangung, Kecamatan Lamba Leda Utara bersama keluarga. Mereka mengungsi ke Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur bersama keluarga saat bertemu tim CT ARSA Foundation.
"Parah sekali kondisinya kakak, parah sekali," kata Fidelis yang saat ini bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) di Labuan Bajo, NTT.
Rumah tersebut retak di bagian yang sudah diplester semen dan terlihat berantakan. Fidelis mengatakan, rumah tersebut sudah satu bulan tak ditempati, karena rasa trauma mendalam. Area rumah Fidelis masih kerap ada guncangan cenderung lemah hingga sedang.
Meski masih takut, Fidelis masih menyimpan harapan bisa menempati kembali rumahnya yang hangat. Tentunya diperbaiki lebih dulu di bagian yang retak dan dicat agar nyaman menjadi tempat tinggal. Fidelis berharap perbaikan ini bisa sedikit mengatasi trauma pascagempa.
Namun tak mudah untuk melakukan perbaikan sederhana untuk rumah tersebut. Dengan penghasilan Rp 2-3 juta per bulan, Fidelis harus membaginya untuk keperluan diri sendiri dan keluarga. Saat ini keluarga Fidelis hidup terpisah agar kehidupan terus berjalan.
Harapan tersebut muncul seiring hadirnya Raisa Gempita dan Nelisa Gempita dalam hidup Fidelis. Saat ini kembar tersebut tinggal bersama sang ibu di kediaman orang tua Fidelis. Sementara anak pertama Fidelis, Fransiskus Saverius Guardi, tinggal bersama keluarga dari sang ibu.
Sahabat Baik, mari kita bantu Fidelis mewujudkan harapannya memiliki kediaman untuk keluarga. Rumah yang tidak mewah namun layak dan cukup hangat untuk hidup bersama istri dan tiga orang anaknya. Kepedulian kita bersama, yang disalurkan lewat berbuatbaik.id, akan membawa dampak nyata pada kehidupannya.