Kembali
Nenek Pemulung Hidup Kekurangan: Makan Daun Singkong hingga Tinggal di Rumah Doyong

Nenek Pemulung Hidup Kekurangan: Makan Daun Singkong hingga Tinggal di Rumah Doyong

Rp 3.268.958
10.896526666667% Complete
Terkumpul dari Rp 30.000.000,-
Donasi Sekarang
Donasi Sekarang

Masih teringat jelas peristiwa mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Nenek Nani (61) saat dirinya memulung. Saat itu dirinya tertabrak motor dan mirisnya tidak ada pertanggungjawaban pelaku yang sepadan.

“Alhamdulillah Allah masih ngelindungin saya. Ya kalau saya gak ada (meninggal), anak saya sama siapa nanti. Dikasih cuma Rp 35 ribu doang saya buat berobat. Saya sampai gak bisa jalan seminggu. Waktu itu saya lagi nyebrang abis itu ada motor kenceng mau belok, ketabrak. Enggak ke rumah sakit juga, saya urut aja sendiri,” jelas Nenek Nani kepada tim berbuatbaik.id di kediamannya Tajurhalang, Bogor.

Foto:berbuatbaik

Kecelakaan yang dialami Nenek Nani (61) menyebabkan dirinya kesulitan berjalan selama seminggu. Hal ini juga membuat dia tak bisa mencari nafkah dengan memulung botol atau gelas plastik bekas. Beruntung, masih ada anaknya, Aris (31), yang menjadi tempatnya bersandar sekaligus membantunya memulung. Sesekali, Aris harus menjadi buruh serabutan untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Meskipun ia putus sekolah saat kelas 5 SD dan tak bisa baca tulis, hal itu tak mematikan semangat dan harapan Aris untuk terus bekerja.

Biasanya, mereka mulai memulung sejak pagi hingga sore hari. Jerih payah mereka sangat tak sebanding dengan penghasilan yang mereka dapat. Tak jarang juga mereka harus pulang dengan tangan kosong, tanpa uang sepeser pun. Hal ini membuat mereka harus terbiasa menahan lapar atau pun makan seadanya.

“Pendapatan saya paling sehari-hari cuma dapat Rp 30 ribu. Itu juga gak tentu. Buat makan aja kurang itu. Itu juga kalau ngumpulin rongsokan paling banyak 2 kg atau 3 kg,” ujar Aris.
“Pernah. Makan paling seadanya kalo gitu, makan sama daun singkong aja atau kol, gak ada nasinya. Daun singkong aja juga harus minta dulu sama tetangga” lanjutnya.

Foto:berbuatbaik

Di dalam gubuk reyot itu, Nenek Nani hanya tinggal berdua dengan anaknya. Rumah yang mereka tinggali hanya berdinding dan beratapkan seng dan bilik bambu, tanpa pintu, serta hanya beralaskan tanah. Juga suatu waktu, mereka pernah membangun kembali rumah itu karena roboh diterpa angin.

“Iya dibikinin sama warga. Ini rumah juga numpang, disuruh nempatin doang sama warga, bukan ngontrak. Sama paling dikasih listrik sama warga, dibetulin. Alhamdulillah dibantu sama orang. Kalau gak dibantu sama warga sini, saya gatau gimana nantinya. Mau nyari tempat tapi nyari ke mana,” ucap Nenek Nani.

“Ini juga kemaren lampu rumah ini 4 malam enggak nyala. Abis itu baru dibenerin. Katanya kalau pake lilin gak bisa, ngeri katanya,” jelasnya lagi.

Foto:berbuatbaik

Meski hidup dengan segala kekurangan, mereka tidak semerta-merta berputus asa dan tetap bekerja keras agar bisa bertahan hidup. Semua mereka jalani dengan penuh rasa cinta dan syukur. Hal ini juga tercerminkan dari kasih sayang Aris kepadanya ibunya. Ia kerap memberikan hal-hal sederhana hanya demi membuat ibunya tersenyum bahagia.

“Kemarin saya dibeliin anting sama anak saya, bukan anting emas. Anting ini, kayak anting mainan,” kata Nenek Nani dengan bangga.
Untuk ke depannya, mereka pun tak berharap banyak atau pun menginginkan hal-hal mewah lainnya. Aris menuturkan bahwa dirinya hanya ingin memiliki gerobak yang dapat meringankan beban pekerjaannya. Sedangkan, Nenek Nani hanya ingin memperbaiki gubuk reyotnya itu, tak ingin pindah ke tempat lain. Ia ingin tetap bisa berziarah dan merawat makam almarhum suaminya.

“Gak mau ke daerah jauh-jauh, soalnya kan suami saya dikuburinnya di dekat sini,” kata Nenek Nani.

“Pengennya punya gerobak buat usaha nyari rongsokan. Soalnya biasanya cuma mikul doang, tapi mikul kan berat. Biasanya pakai karung doang, kalau basah kan berasa banget beratnya,” ujar Aris.

Kisah Nenek Nani adalah sepenggal dari banyaknya kisah pilu yang dapat kita jadikan contoh untuk menjalani hidup dengan penuh ketabahan dalam menghadapi segala cobaan. Rasa kasih dan sayang yang mereka miliki juga dapat kita jadikan teladan untuk lebih peduli terhadap orang-orang di sekitar kita.

#SahabatBaik, mari bersama-sama kita bantu ringankan beban Nenek Nani dengan Donasi melalui berbuatbaik.id. Donasi yang kamu berikan akan tersalurkan 100% ke penerima tanpa potongan sedikit pun. Berapa pun besar donasi yang kamu berikan akan sangat berarti untuk mereka.

Yuk, jangan tunda niat baikmu dan mulai membantu sesama dari sekarang juga!

Donatur

Default User
I*********yati
11 hari yang lalu
Donasi Rp 10.000
Default User
Adi Bachtiar Tambah
12 hari yang lalu
Donasi Rp 100.000
Default User
S*********i
1 bulan yang lalu
Donasi Rp 10.000
Default User
L*********
1 bulan yang lalu
Donasi Rp 50.000
Default User
P*********Abigail
2 bulan yang lalu
Donasi Rp 500.000

Tentang Kami

About Us
berbuatbaik.id ikut andil dalam aktivitas sosial dan kemanusiaan dengan menggalang dana sekaligus memberikan edukasi dan informasi kepada masyarakat.
About Us
berbuatbaik.id dan CTARSA Foundation bertanggung jawab penuh atas penyaluran dana donasi yang diterima.
About Us
Donasi yang diterima akan disalurkan 100% kepada yang membutuhkan tanpa dikenai potongan biaya apapun
About Us
Kamu bisa bergabung dengan komunitas Berbuat Baik menjadi relawan hingga mengajukan penggalangan dana ke berbuatbaik.id