Kembali
Kisah Keluarga Penyadap Nira: Tak Henti Bekerja Guna Rawat Kakak Disabilitas

Kisah Keluarga Penyadap Nira: Tak Henti Bekerja Guna Rawat Kakak Disabilitas

Rp 7.320.952
24.403173333333% Complete
Terkumpul dari Rp 30.000.000,-
Donasi Sekarang
Donasi Sekarang

Tak seorang pun bisa memilih terlahir di keluarga dalam kondisi tertentu. Meskipun demikian, manusia bisa memilih cara bersikap saat dihadapkan dengan berbagai cobaan.

Kisah inspiratif kali ini datang dari Ngateman yang dengan ikhlas menghidupi istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Pria 40 tahun-an ini juga harus merawat ayahnya yang sudah berusia lebih dari 80 tahun dan juga kakak tertuanya, Marno (60), yang mengalami disabilitas daksa sejak dirinya berusia 8 bulan.

Kala itu, demam tinggi yang dialaminya tak langsung tertangani. Berbagai upaya juga telah dilakukan keluarga Marno demi kesembuhannya. Namun apa daya, tak satu pun yang membuahkan hasil.

Foto:berbuatbaik

Kelainan fisik yang diidap Marno selama puluhan tahun membatasi segala aktivitasnya. Sekujur tubuhnya kaku. Kakinya tak bisa menapak, tangannya sangat sulit digerakkan. Ia tak mampu berjalan dan juga kesulitan untuk berbicara. Bahkan untuk makan sendiri saja, Marno harus berjuang keras.

Sebenarnya ia bisa memilih untuk pasrah dan dirawat sepenuhnya oleh keluarganya, Marno justru melakukan hal sebaliknya. Ia tetap berupaya untuk tetap bisa bermanfaat bagi orang lain. Ngateman pun juga pernah memintanya untuk tinggal dan dirawat dengan kakaknya yang lain. Namun, Marno enggan untuk melakukan itu.

“Kalau mau buang air kecil dan besar susah,” ucap Marno dengan terbata-bata.

“Sama saya coba suruh dia buat tinggal sama kakak saya yang lain. Dia tetap enggak mau, dia pengennya sama saya,” kata Ngateman yang tinggal di Desa Banyuasin Separe, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jateng.

Foto:berbuatbaik

Ayah Ngateman yang sudah berusia lebih dari 80 tahun juga sudah tak mampu melakukan banyak hal. Seluruh kemampuannya untuk beraktivitas perlahan-lahan hilang dimakan umur.

“Udah mulai badannya kaku-kaku, ototnya itu semakin tua semakin kaku. Gerakannya enggak terlalu cepat. Dulu buat duduk dan berdiri, dia bisa. Jalan keluar ke tetangga juga bisa, tapi sekarang udah enggak mau. Katanya udah capek kalau jalan-jalan,” jelas Ngateman mengenai kondisi ayahnya.

Untuk menanggung kelima anggota keluarganya, Ngateman harus memeras keringat dengan menjadi penyadap nira di kebun milik orang lain. Ia mengolah nira tersebut menjadi gula aren dan menjualnya. Upah yang didapat dari tiap 1 kg gula yang terjual hanyalah Rp 20 ribu saja, itu pun harus ia bagi setengah dari hasilnya kepada pemilik kebun.

Foto:berbuatbaik

Sesekali, Ngateman juga harus menjadi seorang buruh pengangkut kayu gelondongan untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Istri Ngateman, Sofi, tak hanya tinggal diam. Ia juga membantu suaminya untuk menopang hidup keluarga tercintanya dengan menjadi seorang perajin besek. Tiap 10 buah besek yang dibuatnya, ia hanya diupahi Rp 8.500 yang juga didapatnya tak menentu.

Meski begitu, Sofi dan Ngateman terus bersyukur dan tidak menganggap kondisi saat ini sebagai beban hidup.

“Enggak jadi beban saya, saya ikhlas. Alhamdulillah masih bisa merawat kakak saya yang gak bisa apa-apa itu, Mbak,” jelas Ngateman kepada tim berbuatbaik.id.

“Setahu saya belum pernah mengeluh ngurusin itu. Belum pernah mengeluh, tetap semangat. Tulus dia, Mbak, merawat bapak saya. Istri saya itu sabar banget,” lanjutnya lagi.

Sofi juga menceritakan bahwa dirinya pernah jatuh sakit karena tak henti-hentinya bekerja sambil merawat Marno beserta ayah mertuanya.

Rasa cinta dan peduli Sofi terhadap keluarganya terkadang membuat ia lupa untuk memperhatikan dirinya sendiri. Namun lagi, semua itu ia terima dengan sepenuh hati dan tanpa berputus asa.

“Ya gimana ya. Sebenarnya capai ya. Sekarang kalau kecapaian, itu sakit mata terus sesak. Pernah dirawat di Puskesmas juga 3 kali, belum lama, sesak sama tifus,” kata Sofi.

“Kalau mau pergi, ingat sama yang di rumah kalau ditinggalin buat kerja di luar. Jadi, sekarang udah gak mampu tenaganya. Saya sudah ikhlas di rumah saja, bikin besek,” lanjutnya lagi.

Sahabat Baik, kisah keluarga Ngateman dapat jadi refleksi diri untuk terus mensyukuri yang dipunya dan menghadapi segala persoalan hidup dengan penuh ketabahan.

Mari bersama-sama bantu ringankan beban keluarga Ngateman dengan Donasi di berbuatbaik.id. Donasi yang kamu berikan akan tersalurkan 100% ke penerima tanpa potongan sedikit pun.

Donasi kecilmu bermakna untuk mereka. Yuk, berbuat baik dari sekarang juga!

 

Donatur

Default User
W*********iastuti
3 hari yang lalu
Donasi Rp 50.000
Default User
I*********yati
3 hari yang lalu
Donasi Rp 10.000
Default User
I*********yati
6 hari yang lalu
Donasi Rp 10.000
Default User
E*********adinata
7 hari yang lalu
Donasi Rp 15.000
Default User
S*********i
12 hari yang lalu
Donasi Rp 10.000

Tentang Kami

About Us
berbuatbaik.id ikut andil dalam aktivitas sosial dan kemanusiaan dengan menggalang dana sekaligus memberikan edukasi dan informasi kepada masyarakat.
About Us
berbuatbaik.id dan CTARSA Foundation bertanggung jawab penuh atas penyaluran dana donasi yang diterima.
About Us
Donasi yang diterima akan disalurkan 100% kepada yang membutuhkan tanpa dikenai potongan biaya apapun
About Us
Kamu bisa bergabung dengan komunitas Berbuat Baik menjadi relawan hingga mengajukan penggalangan dana ke berbuatbaik.id