Umur hanyalah angka. Ungkapan tersebut tercermin pada pria renta berusia 97 tahun asal Desa Sukamanah, Kecamatan Cimanggu, Sukabumi, Abah Tuban.
Bahkan Abah masih terus banting tulang di usia senjanya walaupun badannya yang ringkih dan jalan yang sudah tertatih-tatih. Dengan berjualan apem keliling, Abah mengharapkan rupiah.
Setiap kue ditawarkannya dengan harga Rp 1.000. Ia juga dibantu oleh istrinya, Irah, yang memasak kue apem itu.
![]() |
Proses pembuatan kue apem memakan waktu yang sangat lama, melelahkan, dan butuh tenaga ekstra. Dalam seminggu, mereka hanya mampu membuat 150-200 kue apem. Hal ini karena sebenernya mereka sudah tidak sanggup melakukan pekerjaan berat ini. Namun, suka duka itu mereka lalui bersama demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan penuh ketabahan dan rasa syukur.
“Tetep tidak cukup buat sehari-hari. Jadi mau gak mau tetep jualan aja.”, kata Irah.
“Gak, harus dengan keridhoan jadi gak lelah. Kalau dengan kesenangan hati, juga sambil nyanyi, jadi tidak lelah”, tambah Abah Tuban melengkapi.
Sebenarnya Abah Tuban memiliki 8 orang anak dan 26 cucu. Mereka semua sudah berkeluarga dan tinggal terpisah. Mereka juga sudah menyuruh orangtua mereka untuk berhenti bekerja. Namun, Abah Tuban dan istrinya menolak itu dan memilih untuk tetap berjualan kue apem karena rasa kasih dan sayang mereka kepada anak cucunya dan tak mau menjadi beban.
![]() |
“Anak-anak udah punya kewajibannya sendiri, juga udah punya cucu. Cucu buyut saya udah 26,” kata Abah.
Selain memiliki rasa syukur dan semangat juang yang tinggi, Abah Tuban juga memiliki hati bak malaikat. Sikap mulianya itu timbul dari sikap ikhlas dan kedermawanannya tatkala ia membagikan sisa dagangannya yang tidak laku. Kue-kue apem itu ia bagian secara cuma-cuma kepada siapa saja yang ia temui saat pulang. Ia menganggap hal tersebut sebagai ladang pahala dan amal yang ia dapatkan untuk dirinya.
“Kalau jualan tidak habis, sering saya bagikan sisanya. Saya bagikan ke siapa aja yang dekat pas saya pulang naek angkot,” ujar Abah Tuban.
“Kalau kue sisa 30, biasanya ada yang ngasih 50 ribu rupiah. Jadi, udah ada gantinya dan saya ga ngerasa susah. Tuhan udah memberi rezeki. Biar sisa jualan masih banyak, uang segitu udah cukup,” lanjutnya.
![]() |
Abah Tuban dan istrinya juga tidak menuntut hidup yang berlebih. Tinggal berdua di rumah yang sangat sederhana dan dengan keterbatasan yang selalu dilandasi rasa syukur sudah cukup membuat mereka hidup bahagia. Prinsip yang dipegang oleh Abah Tuban juga dapat dijadikan contoh dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
“Saya gak pengen beli motor, sawah, gak. Cuma pengen bisa menuhin kebutuhan rumah sehari-hari aja cukup,” kata abah.
“Kalau sendiri masih sanggup, saya akan terus bekerja,” ucap Abah Tuban dengan yakin.
Sahabat baik, kisah Abah Tuban dapat dijadikan secercah inspirasi dalam menjalani hidup ini.
Derap langkah dan tiap tetes keringat yang kita lalui harus selalu dibarengi dengan rasa syukur.
![]() |
Mari #sahabatbaik bantu ringankan beban Abah Tuban dan istrinya serta memberinya semangat dengan Donasi di berbuatbaik.id.
Donasi kamu 100% tersalurkan ke penerima tanpa potongan sedikit pun. Jangan khawatir! Buat kamu yang sudah berdonasi juga akan mendapatkan notifikasi yang berisi info terkini mengenai penerima donasi yang telah kamu bantu.
Yuk, jangan tunda niat baikmu dan menebar kebaikan dari sekarang juga!
Abah Tuban, penjual apem berusia 100 tahun, sempat merasakan hangatnya kepedulian Sahabat Baik sebelum berpulang pada akhir 2025. Kebaikan ini juga dirasakan keluarganya yang tinggal dalam rumah sederhana di wilayah Sukabumi, Jawa Barat.
Mak Irah mengatakan, donasi sebesar Rp 11.925.509 dimanfaatkan untuk memperbaiki dapur di sampung rumah. Dapur tersebut adalah area Mak Irah memasak kue apem, sebelum dijual Abah Tuban keliling kampung. Dapur masih digunakan, meski tidak untuk membuat kue apem.
![]() |
Donasi juga dibelikan perlengkapan rumah tangga berupa dispenser air minum serta sebuah lemari plastik. Perabot bisa digunakan tanpa harus berdiri, sesuai kemampuan fisik Mak Irah yang makin menurun hingga sulit berdiri dan tak bisa banyak bergerak.
Saat dikunjungi tim berbuatbaik.id, Mak Irah menjelaskan kronologi saat suaminya meninggal dunia. Abah Tuban ditabrak motor saat menjajakan kue apem di pagi hari. Kecelakaan mengakibatkan cedera pada kaki, tangan, dan pembuluh darah menuju kepala.
"Uangnya dipakai berobat abah juga, karena ganti rugi dari yang nabrak nggak banyak. Tapi abah udah tua, jadi susah mau operasi juga," kata Mak Irah mengenang sang belahan hati pada hari-hari akhir kehidupannya, ketika menjalani perawatan di RSUD Jampangkulon.
![]() |
Sisa donasi digunakan untuk pemulangan jenazah Abah Tuban dari rumah sakit menuju kediaman, hingga penguburannya. Keluarga sempat menyelenggarakan tahlilan sebagai peringatan berpulangnya abah, bersama saudara dan tetangga sekitar rumah.
Sahabat Baik, terima kasih atas kepeduliannya pada Abah Tuban. Abah berhasil mewujudkan harapannya menjadi individu produktif dan tidak merepotkan orang lain hingga akhir hayat. Dampak serupa bisa dirasakan penerima donasi lain di berbuatbaik.id, karena itu jangan segan untuk selalu berbagi dan update terus kabar terbaru kami.