Kembali
Kisah Sedih Anak Petani Usia 3 Tahun yang Kehilangan Bola Mata Akibat Kanker

Kisah Sedih Anak Petani Usia 3 Tahun yang Kehilangan Bola Mata Akibat Kanker

Rp 29.754.750
99.1825% Complete
Terkumpul dari Rp 30.000.000,-
Donasi Sekarang
Donasi Sekarang

Tak ada yang lebih menyedihkan melihat buah hati menderita dan kehilangan bola mata akibat kanker. Penyakit ini dialami oleh Hani Istighfaroh (3), anak yang tinggal di warga Dusun Panggul Melati, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumuk Mas, Jember, Jawa Timur.

"Awalnya usia 6 bulan kayak ada titik bening di mata kanan. Akhirnya saya bawa ke dokter mata. Dari situlah diketahui kalau putri saya ini kena kanker ganas di mata kanannya," kata ibunda Hani, Maghfiroh, Sabtu (29/4/2023).

Foto:berbuatbaik.id

Atas saran dokter, Maghfiroh lalu membawa Hani ke rumah sakit dr Soetomo Surabaya. Di sana, dokter menyarankan agar Hani segera dioperasi untuk mengangkat bola mata sebelah kanan.

"Saat itu kita tidak langsung mengiyakan. Kami bawa pulang. Sampai di rumah, banyak yang menyarankan agar tidak usah dioperasi. Alasannya kasihan. Apalagi usianya baru 6 bulan," imbuh Maghfiroh.

Hani pun kemudian menjalani pengobatan alternatif. Namun upaya itu tak membuahkan hasil. Malah kondisi mata Hani semakin parah. Balita itu juga sering mengeluh sakit.

"Saat usianya 1 tahun, kita bawa lagi ke dr Soetomo Surabaya. Dan ternyata hasil pemeriksaan, kankernya sudah menyebar ke yang kiri. Sempat dimarahi juga sama dokternya," terang sang ibu.

Foto:berbuatbaik.id

"Tapi saat itu tidak bisa langsung operasi. Harus kemoterapi dulu. Karena memang kondisinya sudah parah dan menyebar," sambungnya.

Setelah beberapa kali kemoterapi, Hani menjalani operasi. Bola mata kanan balita itu harus diangkat. Operasi pun berjalan lancar.

"Tapi sampai sekarang masih harus perawatan. Utamanya menjaga mata kirinya," kata Maghfiroh.

Sudah tak terhitung besarnya biaya yang harus dikeluarkan Maghfiroh dan suaminya. Dia yang seorang guru TK dan suaminya yang bekerja sebagai buruh tani, harus pontang-panting untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan motor dan perabotan sampai ikut terjual.

"Kalau pengobatan medisnya dan operasinya memang pakai BPJS. Tapi yang juga butuh biaya itu kan riwa-riwi ke Surabayanya. Dan biaya hidup di sana. Kadang sampai beberapa hari sampai bulan," terangnya yang hanya digaji Rp 50 ribu per bulan sebagai guru TK.

"Ya kadang harus ngutang. Sampai sekarang kita masih punya tanggungan utang yang harus kita cicil. Untung orangnya mau dicicil," tutup Maghfiroh.

Menurut Maghfiroh, dia dan suami harus tinggal berhari-hari di Surabaya selama Hani kemoterapi sebelum dan sesudah operasi. Kemoterapi harus dijalani Hani karena kankernya sudah menyebar.

"Kankernya sudah menyebar, bahkan ada indikasi ke mata kiri. Jadi nggak bisa langsung operasi. Harus kemoterapi dulu," kata perempuan yang tinggal di Dusun Panggul Melati, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumuk Mas, Jember itu.

Kemoterapi yang dilakukan di Rumah Sakit dr Soetomo tidak hanya sekali. Sekali kemoterapi, Maghfiroh dan suaminya harus berada di Surabaya sekitar seminggu.

"Sebelum operasi, kemoterapi tiga kali. Setelah operasi, kemoterapi 9 kali. Ini agar kankernya benar-benar mati," kata Maghfiroh.

"Untuk biaya hidup di Surabaya dan kebutuhan Hani ini yang memang juga cukup besar," kata Maghfiroh.

Di lain sisi, penghasilan suami yang hanya sebagai buruh tani, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Demikian juga penghasilan Maghfiroh yang bekerja sebagai guru TK.

"Jadi ya kita jual apa yang kita punya. Ada motor kita jual. Nenek punya kambing juga kita jual," katanya.

Bahkan Maghfiroh juga terpaksa harus utang ke sana ke mari untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dia juga mengaku sampai saat ini masih punya utang yang harus dibayar.

"Beruntung orangnya baik, mau saya bayar dengan cara dicicil," ujar Maghfiroh.

Kesedihan Maghfiroh menjadi kesedihan kita juga. Tak terbayang hancurnya hati melihat sang anak tak punya penglihatan yang sempurna. Perjuangan Maghfiroh patut didukung agar keluarga tidak menyerah dan berputus asa atas keadaan Hani.

Dukungan itu bisa diwujudkan mulai dari Donasi di berbuatbaik.id sekarang juga. Ayo sahabat baik, bantu mereka menghadapi cobaan ini serta memberikan asa untuk masa depan Hani, utamanya dalam memenuhi kebutuhan yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan.

Kabar baiknya, semua donasi yang diberikan seluruhnya akan sampai ke penerima 100% tanpa ada potongan.

Kamu yang telah berdonasi akan mendapatkan notifikasi dari tim kami. Selain itu, bisa memantau informasi seputar kampanye sosial yang kamu ikuti, berikut update terkininya.

Jika kamu berminat lebih dalam berkontribusi di kampanye sosial, #sahabatbaik bisa mendaftar menjadi relawan. Kamu pun bisa mengikutsertakan komunitas dalam kampanye ini.

Yuk jadi #sahabatbaik dengan #berbuatbaik mulai hari ini, mulai sekarang!

 

Donatur

Default User
Hamba Allah
4 bulan yang lalu
Donasi Rp 200.000
Default User
Hamba Allah
4 bulan yang lalu
Donasi Rp 20.000
Default User
Eko Wiyono
4 bulan yang lalu
Donasi Rp 50.000
Default User
Hamba Allah
4 bulan yang lalu
Donasi Rp 5.000
Default User
M*********
4 bulan yang lalu
Donasi Rp 5.000

Tentang Kami

About Us
berbuatbaik.id ikut andil dalam aktivitas sosial dan kemanusiaan dengan menggalang dana sekaligus memberikan edukasi dan informasi kepada masyarakat.
About Us
berbuatbaik.id dan CTARSA Foundation bertanggung jawab penuh atas penyaluran dana donasi yang diterima.
About Us
Donasi yang diterima akan disalurkan 100% kepada yang membutuhkan tanpa dikenai potongan biaya apapun
About Us
Kamu bisa bergabung dengan komunitas Berbuat Baik menjadi relawan hingga mengajukan penggalangan dana ke berbuatbaik.id