Kembali
Tak Ada Sepakbola Seharga Nyawa, Mari Pulihkan Luka: Salam Satu Jiwa

Tak Ada Sepakbola Seharga Nyawa, Mari Pulihkan Luka: Salam Satu Jiwa

Rp 100.787.000
67.191333333333% Complete
Terkumpul dari Rp 150.000.000,-
Donasi Sekarang
Donasi Sekarang

Sepakbola Indonesia berduka. Tragedi maut terjadi usai pertandingan Arema FC melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10). Sebanyak 135 orang tewas dalam insiden ini.

Cerita pilu pun bermunculan karena sesungguhnya tak ada sepakbola seharga nyawa. Keluarga kehilangan anak ataupun anak kehilangan orangtua di Sabtu kelabu itu.

Foto:ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO

Suporter Arema, Angga menceritakan, kekacauan berawal saat sejumlah suporter turun ke lapangan usai pertandingan Arema FC vs Persebaya berakhir. Ia melihat suporter memeluk pemain Arema. Kemudian gas air mata ditembakkan saat ratusan suporter turun ke lapangan.

Melihat situasi seperti itu, Angga merangkul kawan-kawannya, termasuk temannya, almarhum Fajar, untuk keluar dari stadion. Celakanya, pintu maut stadion tertutup. Genggaman erat tangan Angga kepada Fajar lepas. Di situ lah petaka terjadi.

Dalam kondisi tersebut, Angga bahkan melihat ke arah bawah. Dirinya sedang menindih seseorang. Bahkan Angga menyebut di atas tubuhnya juga ada orang yang sudah tak bergerak, entah pingsan atau sudah tak bernyawa.

Foto:ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

Angga merasakan kakinya sudah kram. Dengan tenaga tersisa, Angga berusaha bangkit dan keluar dari situasi mencekam itu. Angga mengaku melihat orang berbaju polisi tergeletak pingsan di antara kerumunan tersebut.

Selepas keluar stadion, bersama teman lainnya, Angga mencari Fajar. Namun apa daya, Fajar sudah tergeletak tak bergerak dan akhirnya dibawa ke rumah sakit hingga dinyatakan meninggal dunia.  

Foto:AP/Achmad Ibrahim<

Kisah Refo Selamatkan Balita

Refo Septiyan masih ingatkan betul bagaimana gelapnya peristiwa tersebut bagi dirinya. Saat itu Refo bersama 9 orang temannya mendengar dentuman suara tembakan gas air mata sebanyak 6 kali ke arah tribun 12, tempatnya duduk. Sontak saja seluruh penonton panik dan berdesakan selamatkan diri.

Pria 19 tahun pun mengaku sempat menyelamatkan beberapa suporter yang jatuh pingsan dan juga balita berumur 4 tahun. Aremania asal Gresik ini berusaha keluar dari tribun namun dia jutru terjatuh dan terinjak suporter lain. Tak hanya itu, kaki kiri Refo pun terluka tertimpa besi tangga tribun yang roboh. Nahas, balita dalam pelukan Refo telepas jatuh.

Foto:berbuatbaik.id

"Awalnya kan saya masih foto-foto itu ya terus ada tembakan itu, saya mencoba menyelamatkan sendiri semuanya, awalnya nolong teman saya pingsan terus lihat balita aku gendong aja aku coba selametin ke depan ternyata di depan itu terlalu desa-desakan sampai akhirnya roboh saat itu balitanya sudah lepas dari saya. Aku posisinya tergantung di tangga kepala di bawah kaki di atas tergantung sekitar 10 menit di situ," jelas dia panjang lebar.

Refo sempat berpikir dirinya pasti mati apalagi tubuhnya tergantung dengan kepala di bawah karena tersangkut besi. Sebab, semakin banyak massa membeludak maka tangga tersebut pun ambruk dan dia selamat walaupum kaki kiri Refo patah.

Foto:berbuatbaik.id

Sejak terlepas dari pelukan Refo, dia tidak tahu lagi nasib balita tersebut. Besar harapannya sang balita bisa selamat dan berkumpul dengan keluarga. Setelah kejadian tragis itu, Refo kini menjalani pemulihan di rumah kos bersama ibu, ayah dan adiknya di Desa Pongangan, Manyar, Gresik.

Kini kondisinya semakin membaik. Dia mengaku tetap semangat belajar berjalan agar lekas pulih. Keluarga Refo pun terus memberikan dukungan tanpa henti

"Sekarang Sudah enakan sudah mulai belajar jalan mulai menapak dikit-dikit kakinya tapi masih pakai bantuan tongkat harapannya ya jadi pelajaran Terus kalau nonton bola itu memang hobi kalau saya larang Ya namanya juga anak muda. Saya pernah muda jadi ya hati-hati lebih hati-hati kalau untuk tragedi ini ya seharusnya nggak sampai seperti ini sih. Kan mereka lebih tahu seharusnya gimana caranya menangani massa," ungkap ibu Refo, Windi Dwi Yuliana.

Foto:berbuatbaik.id

Sahabat Baik, tragedi Kanjuruhan menjadi catatan hitam sepakbola Indonesia sekaligus menorehkan luka dan trauma bagi para pencinta sepakbola. Padahal olahraga ini seharusnya menjadi ajang prestasi sekaligus pemersatu bangsa yang penuh kebahagiaan dan sportivitas.

Kejadian ini tentu menjadi bahan renungan sekaligus momen untuk bersama dalam satu jiwa menyembuhkan luka. Mari wujudkan solidaritas dengan Donasi sekarang juga dan bantu para korban bangkit dari kesedihan.

Kabar baiknya, semua donasi yang diberikan seluruhnya akan sampai ke penerima 100% tanpa ada potongan. Kamu yang telah berdonasi akan mendapatkan notifikasi dari tim kami. Selain itu, bisa memantau informasi seputar kampanye sosial yang kamu ikuti, berikut update terkininya.

Jika berminat lebih dalam berkontribusi di kampanye sosial, #sahabatbaik bisa mendaftar menjadi relawan. Kamu pun bisa mengikutsertakan komunitas dalam kampanye ini.

Yuk jadi #sahabatbaik dengan #berbuatbaik mulai hari ini, mulai sekarang!

Donatur

Default User
Hamba Allah
1 bulan yang lalu
Donasi Rp 20.000
Default User
Hamba Allah
1 bulan yang lalu
Donasi Rp 80.000
Default User
D********* T
1 bulan yang lalu
Donasi Rp 5.000
Default User
M*********Lestari
1 bulan yang lalu
Donasi Rp 10.000
Default User
Hamba Allah
2 bulan yang lalu
Donasi Rp 10.000

Tentang Kami

About Us
berbuatbaik.id ikut andil dalam aktivitas sosial dan kemanusiaan dengan menggalang dana sekaligus memberikan edukasi dan informasi kepada masyarakat.
About Us
berbuatbaik.id dan CTARSA Foundation bertanggung jawab penuh atas penyaluran dana donasi yang diterima.
About Us
Donasi yang diterima akan disalurkan 100% kepada yang membutuhkan tanpa dikenai biaya pemotongan atau biaya apapun. Seluruh biaya operasional penyampaian donasi ditanggung oleh jaringan usaha CT Corp
About Us
Kamu bisa bergabung dengan komunitas Berbuat Baik menjadi relawan hingga mengajukan penggalangan dana ke berbuatbaik.id