Kembali
Di Atas Kursi Roda, Parmi Menumbuk Melinjo untuk Berjuang Hidup Bersama Ibu

Di Atas Kursi Roda, Parmi Menumbuk Melinjo untuk Berjuang Hidup Bersama Ibu

Rp 3.950.000
7.9% Complete
Terkumpul dari Rp 50.000.000,-
Donasi Sekarang
Donasi Sekarang

Luka masih tetap membekas meski gempa di Yogyakarta pada 2006 lalu telah usai. Kesedihan itu tertanam jelas di benak Parmi. Bahkan karena gempa itu, kini Parmi duduk di kursi roda dengan keterbatasan saraf tangan dan kakinya yang melemah.

Dengan air muka nanar dan penuh trauma, Parmi mengisahkan kembali bagaimana gempa itu mengguncang hidupnya.

"Saya begitu plak itu kena tembok terus saya keduduk terus saya lihat itu apa goyang-goyang seperti mau ngeruntuhin saya. Terus saya langsung geser masih sadar saya sambil ngucap Allahuakbar Innailaihi, pokoknya ngucapnya sebatas bisa keluar entah itu salah atau benar saya langsung cuma bilang Allahuakbar, langsung saya narik ke bawah meja yang dulu untuk saya belajar waktu saya masih sekolah," ceritanya kepada tim berbuatbaik.id

Foto:berbuatbaik.id

Akibat reruntuhan gempa, Parmi mengalami gumpalan darah di otak. Saraf kaki dan tangannya lemah begitu juga daya penglihatan dan pendengaran. Bahkan jika sudah kelelahan Parmi bisa merasakan sakit di seluruh tubuhnya.

Dia mengaku sudah menjalani rehabilitasi selama 3 tahun setelah kejadian dan berganti-ganti obat, dokter hingga rumah sakit. Namun kini BPJS Kesehatan tidak bisa lagi digunakan.

"Ke rumah sakit daerah sudah gak bisa sudah dinonaktifkan karena perpanjangan ke rumah sakit pusat itu 3 bulan jadi selama 3 bulan itu mungkin gak terpakai atau gimana gitu ya padahal saya seminggu mesti ke sana," sambungnya.

Foto:berbuatbaik.id

Walau penuh derita, Parmi mulai menata hidup dan memutuskan untuk tidak menyerah. Alasannya tetap semangat tak lain karena ibunya yang dipanggil Si Mbok.

"Iya kasian kan Si Mbok kalau sudah sepuh seharusnya Si Mbok itu bahagia masa aku masih harus sambat-sambat (mengeluh) gitu jadi sakit ya saya nikmati aja mungkin ini sudah kehendak Allah, takdir Allah, harus seperti ini," lanjutnya pasrah.

Ngatidjem adalah sosok yang membuat Parmi selalu bersemangat untuk hidup. Ngatidjem adalah nenek berusia 80 tahun yang hidup dari keping-keping emping. Bersama Parmi, Ngatidjem hidup di rumah sederhana bantuan pemerintah di Dusun Ciren, Desa Triharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Sebenarnya Parmi bukanlah anak satu-satunya Ngatidjem, namun anak pertamanya sudah meninggal dan anak keduanya telah berkeluarga.

Foto:berbuatbaik.id

Hidup hanya berdua, mereka bahu membahu membuat emping melinjo. Setiap hari mereka bekerja dari pagi hingga sore menumbuk melinjo, membumbui hingga menjemurnya hingga menjadi emping. Tidak banyak emping yang mereka hasilkan setiap hari cuma sekitar 250 gram karena Parmi sudah tak bisa lagi berlama-lama menyangrai dan menumbuk melinjo.

Penghasilan mereka pun tak menentu, apalagi per kilogram hanya dihargai hanya Rp 70 ribu dan hanya menunggu pelanggan datang membeli karena Ngantidjem tak mampu lagi berkeliling.

"Ya gak betah lama karena saya menurut dokter saya gak boleh kerja karena kalau kerja berat otomatis saraf otak kan saya pelemahan motoril dari otak pusat seperti ini tapi ya gimana kalau saya gak kerja pemasukannya dari mana karena saya harus menghidupi orang tua saya ya kerja sama lah istilahnya bukan saya sendiri tapi berdua," jelas dia.

Parmi pun memendam rasa bersalah kepada sang ibu sebab Parmi pernah menjual cincin sang ibu lantaran butuh untuk biaya USG ginjal. Dia berjanji jika dia diberi umur panjang dan rezeki lagi, dia akan mengembalikan cincin kesayangan Si Mbok.

"Maafin saya ya Mbok cincinnya udah kembali ke tokonya kemarin buat berobat saya. Insyaallah kalau saya diberikan umur diberikan kesembuhan besok saya bisa membelikan lagi entah kapan saya yakin Allah pasti mengabulkan. Kemarin waktu si mbok sakit itu rasanya gimana ya saya merasa berdosa banget cincin yang dulu tak belikan untuk si mbok cuma 3 gram udah tak jual," ucapnya sembari menahan tangis.

Sahabat Baik, kisah ibu anak ini tentu menjadi pelajaran yang berharga untuk terus berjuang untuk menyambung hidup. Dukung mereka selalu untuk terus saling menopang satu sama lain dengan Donasi sekarang juga di berbuatbaik.id

Kabar baiknya, semua donasi yang diberikan seluruhnya akan sampai ke penerima 100% tanpa ada potongan. Kamu yang telah berdonasi akan mendapatkan notifikasi dari tim kami. Selain itu, bisa memantau informasi seputar kampanye sosial yang diikuti, berikut update terkininya.

Jika berminat lebih dalam berkontribusi di kampanye sosial, #sahabatbaik bisa mendaftar menjadi relawan. Kamu pun bisa mengikutsertakan komunitas dalam kampanye ini.

Yuk jadi #sahabatbaik dengan #berbuatbaik mulai hari ini, mulai sekarang!

Donatur

Default User
Felix
1 hari yang lalu
Donasi Rp 250.000
Default User
Anonim Anonim
5 hari yang lalu
Donasi Rp 1.000.000
Default User
Hamba Allah
5 hari yang lalu
Donasi Rp 10.000
Default User
T*********yu
10 hari yang lalu
Donasi Rp 250.000
Default User
Hamba Allah
11 hari yang lalu
Donasi Rp 100.000

Tentang Kami

About Us
berbuatbaik.id ikut andil dalam aktivitas sosial dan kemanusiaan dengan menggalang dana sekaligus memberikan edukasi dan informasi kepada masyarakat.
About Us
berbuatbaik.id dan CTARSA Foundation bertanggung jawab penuh atas penyaluran dana donasi yang diterima.
About Us
Donasi yang diterima akan disalurkan 100% kepada yang membutuhkan tanpa dikenai biaya pemotongan atau biaya apapun. Seluruh biaya operasional penyampaian donasi ditanggung oleh jaringan usaha CT Corp
About Us
Kamu bisa bergabung dengan komunitas Berbuat Baik menjadi relawan hingga mengajukan penggalangan dana ke berbuatbaik.id